Tour de Singkarak 2013

Menurut legenda, Nagari Pandaisikek sudah lama sekali, bahkan ada yang mengatakan sudah berumur lebih dari seribu tahun. Tapi itu sulit diterima karena tidak ada bukti sejarah yang pasti.Menurut tambo (catatan sejarah Minang Kabau), Daerah yang pertama kali dihuni oleh masyarakat Minang Kabau adalah taratak-taratak (suatu pemukiman yang penduduknya lebih kecil dari dusun) yang terletak di lereng gunung merapi dan gunung singgalang.


Taratak merupakan ladang yang dikerjakan oleh para pendatang dari berbagai tempat dan sekaligus merupakan tempat tinggal mereka (tempat bermalam). Jadi belum lagi disebut sebagai kampung. Yang dimaksud ladang disini adalah bertani atau bercocok tanam, yang mana tanamannya berupa tanaman berumur pendek sehingga hasil panen langsung dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga (Misal padi gogo), dan masih menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, kampak, parang dan sebagainya , belum lagi menggunakan peralatan modern dan berteknologi tinggi seperti yang kita jumpai saat in.

Akan tetetapi bukan berarti mereka manusia purba yang menggunakan kampak dari batu dan tinggal diatas pohon-pohon atau gua. Kejadian ini berlangsung terus-menerus, dan ini adalah suatu proses alami yang menyangkut integritas manusia dengan alam sesuai perkembangan populasi manusia.

Dalam Buku Budaya Alam Minang Kabau dijelaskan bahwa masyarakat taratak masih terkait dengan Nagari yang menjadi induknya. Akan tetapi mungkin saja tidak demikian, sebab taratak merupakan cikal bakal terbentuknya sebuah nagari. Begitu juga halnya dengan Nagari Pandaisikek, kalau ditanya mana yang kebih dulu jorong Baruah dengan jorong Tanjuang, sebagian akan mengatakan bahwa jorong Baruah lah yang lebih dahulu, dengan alasan pusat pemerintahan Nagari Pandaisikek dahulunya terletak di Jorong Baruah. Akan tetapi kita tidak pernah menjumpai adanya taratak di Jorong Baruah, justru kita menjumpai taratak di Jorong Tanjuang, ini dibuktikan dengan adanya sebuah pemukiman yang bernama taratak yang terletak di Jorong tersebut. Akan tetapi sebenarnya taratak-taratak tersebut tersebar disepanjang lereng gunung singgalang seperti : di jorong Kototinggi bagian utara, jorong Tanjuang bagian utara dan di Jorong Pagu-pagu utara sampai selatan.

Alasan lain adalah dimana kalau kita tinjau dari nama masing-masing jororng yang ada di Nagari Pandaisikek. Baruah misalnya, kata baruah berarti bawah atau lebih rendah, kata Baruah tidak mungkin disebut pertama kali oleh masyarakat Baruah itu sendiri. melainkan pasti disebut oleh masyarakat yang pemukimannya lebih tinggi seperti Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu. Begitu juga sebaiknya, tidak mungkin nama Kototinggi disebut oleh masyaratat yang tinggal di Kototinggi untuk pertama kalinya, melainkan disebut dan dinamai oleh masyarakat yang tinggalnya lebih rendah dari Kototinggi, begitu juga dengan nama Jorong yang lainnya seperti Tanjuang dan Pagu-pagu.

Masa Mendidirkan Kampung

Di taratak-taratak, penduduknya tinggal di rumah-rumah kecil (pondok) yang didirikan di tengah ladang atau di pinggir-pinggir ladang, yang mana jarak antara pondok satu ke pondok yang lain relatif berjauhan. Sehingga kontak dan komuniksasi antar penghuni taratak sangat kurang, dengan arti kata belum lagi hidup bermasyarakat. Kondisi seperti ini menimbulkan ide dari penghuni tararak untuk mendirikan suatu pemukiman tetap yang jarak antara satu rumah ke rumah yang lain relatif berdekatan. Sehingga dengan demikian lahirlah suatu pemukiman atau kampung yang penduduknya hidup bermasayarakt. berdampingan dan saling tolong menolong satu sama lain. Lokasi yang dipilih untuk perkampungan ini biasanya terletak di punggung bukit, tanahnya keras dan kering serta tidak dipakai untuk ladang atau persawahan. Perkampungan seperti inilah yang kemudian disebut dengan Istilah Dusun

Perkampungan yang pertama kali didirikan adalah di Guguak Lagundi dan di Jarek. Kemudian didirikan lagi perkampungan lain yang letaknya lebih baik yaitu di Tanjuang, yang akhirnya semua pendududk Guguak Lagundi dan Jarek pindah ke Tanjuang. Sekarang tidak lagi ditemukan perkampungan di Guguak Lagundi dan Jarek, akan tetapi di Jarek saat ini masih ada sebuah tempat yang disebut Rumah Baukie.

Cara mendirikan perkampungan ini tergolong unik. Dimana penghuni taratak-taratak tersebut terdiri dari berbagai macam suku dan datangnya dari berbagai tempat yang berjauhan. Sudah pasti pendirian kampung tersebut adalah dengan melalui musyawarah kesepakatan. Tanjuang misalnya, tempat tersebut telah dikapling-kapling untuk suku Sikumbang, Koto, Guci dan sebagainya. Kaplingan tersebut saling berdekatan, seolah-olah satu suku satu kaplingan. Dalam berbagai sumber dikatakan bahwa kaplingan persukuan inilah yang lebih populer disebut dengan istilah Sasok Jarami. Pada perkembangan selanjutnya persukuan yang memiliki tanah kaplingan lebih dari kebutuhan tempat tinggal dan ladang. Persukuan tersebut akan menjadikan kaplingan tersebut sebagai tanah kuburan Persukuan. Dan inilah yang disebut dengan Pandam Pakuburan.

Catatan : Hal ini tidak bisa kita pungkiri, yang mana bukti sejarah tersebut sampai sekarang masih ada. Kita bisa melihat deretan tanah sawah atau ladang tebu yang berjejer dari utara keselatan dimiliki oleh suatu persukuan tertentu dan kemudian berbatasan dengan deretan tanah sawah atau ladang milik persukuan lain.

Kemungkinan lain, dimana yang pertama kali mendirikan suatu perkampungan cuma satu persukuan saja. Misalnyo di Guguak Lagundi, sampai sekarang masih ada sebuah tempat yang disebut Kampung Sikumbang atau di Kototinggi ada suatu pemukiman atau dusun yang mana semua penduduknya bersuku koto. Namun akhirnya dusun tersebut disisip oleh penduduk dari persukuan lain. kejadian ini mungkin saja tanah tersebut dijual atau diberikan begitu saja (misal : agiah dari bako). Suatu Persukuan mendirikan kampung atau pemukiman tentu memilih tempat yang cukup luas. Karena disamping mereka membangun rumah untuk masing-masing keluarga, mereka juga membuat satu rumah besar untuk kebutuhan Persukuan (Rumah gadang). Di Rumah Gadang inilah diadakan pesta-pesta atau alek yang bersifat persukuan, seperti mengangkat kepala suku (Batagak Pangulu).

Antara satu perkampungan dengan perkampungan lain dihubungkan dengan jalan yang lebih besar yang disebut Labuah nan Golong. Sedangkan antara rumah-rumah berdekatan tetapi dimiliki oleh suku yang berlainan disebut dengan singok bagisie alaman salalu. Kalau dalam satu persukuan disebut dengan Sapaimbauan. Gabungan kampung persukuan inilah yang kemudian berubah menjadi Kampuang Tanjuang, Kampuang Kototinggi, Kampuang Pagu-pagu dan Kampuang Baruah.

Pada saat itulah mulai disusun hidup bermasyarakat yang teratur, diangkat Kepala Persukuan (pangulu), adanya sesepuh atau tetua kampung, dibangun sawah dan irigasi (Tali Banda), dibangun jalan yang lebih besar sebagai penghubung antara kampung dengan kampung yang lainnya (Labuah nan Golong). Semua pekerjaan ini dilaksanakan dengan cara bergotong royong dengan melibatkan semua penduduk kampung tanpa memandang Persukuan.

Pada perkembangan selanjutnya, kepemilikan tanah sawah atau ladang tidak dibatasi oleh kampung persukuan yang ada. Penduduk suku Guci di Kototinggi bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di kampung Tanjuang atau Baruah. Sebaliknya, Penduduk suku Koto di Baruah juga bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di Kampung Tanjuang atau Pagu-pagu. Keakuran dan keteraturan penduduk dari empat kampung tersebut (Baruah, Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu) membentuk suatu kesatuan. Sehingga Berdirilah sebuah Nagari yang disebut Nagari PANDAISIKEK (Pandai Saikek).

Sangatlah rancu kiranya jika kata PANDAISIKEK di bahasa Indonesiakan, sebab akan merubah menjadi kata PANDAISIKAT. Tentu ini akan merubah arti dan penafsiran asal muasal dari kata Pandaisikek. Jadi janganlah gunakan kata Pandaisikat, sekali PANDAISIKEK TETAP PANDAISIKEK. karena itulah jati diri, sabagai Masyarakat PANDAISIKEK.

Catatan : Jika terjadi perpindahan penduduk dari suatu pemukiman ke pemukiman lain, biasanya semua barang-barang ikut dibawa. Contoh, Ketika nenek Haji Daniah pindah ke perumahan barunya di Tanjuang, dia membawa Lesung dari pemukiman semula. Lesung dari batu ini dibawa secara bergotong royong dan memakan waktu berhari-hari. Setelah lesung ini ditanamkan pada tempat yang diinginkan kemudian diadakan pesta (alek) secara besar-besaran (konon kabarnya pesta tersebut dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam).


sumber : pandaisikek.net

Categories:

Leave a Reply