Tour de Singkarak 2013



SEJAK peresmiannya oleh Menkominfo, Tifatul Sembiring, pada tanggal 27 Januari 2013 lalu, saya menyimpan keinginan untuk pulang ke kampung halaman suami barang sejenak, demi ingin menikmati destinasi wisata baru di Ngarai Sianok.

Ini perkembangan dunia pariwisata Bukittinggi yang membanggakan, mengingat selama ini wisatawan yang ke Bukittinggi “hanya” ditawarkan pemandangan Jam Gadang, belanja di Pasar Ateh, memandang panorama Ngarai Sianok, merasakan hawa dingin dan kelamnya Lobang Jepang, bertamasya bersama para satwa di Kebun Binatang, menikmati Bukittinggi dari ketinggian dari atas jembatan Limpapeh, atau jalan-jalan ke Benteng Fort de Kock. Sekali ini, wisatawan akan diajak untuk berolahraga kaki diJanjang Kotogadang.


1366277185892184397
Jalan masuk yang menurun. (dok. AFR)

Janjang Kotogadang ini merupakan tangga yang -konon katanya, saya sendiri tidak menghitung- berjumlah seribu, yang membentang dari Ngarai Sianok sampai ke ujung nagari Kotogadang. Kalau Anda belum pernah ke Great Wall-nya China -seperti saya- ada baiknya Anda ke sini terlebih dahulu. Inilah Great Wall-nya Indonesia. 

Meski tak sampai seperti Great Wall of China yang menurut penelitian arkeologi terbaru adalah sepanjang 21.196.18 km, namun pengalaman menapaki Janjang Kotogadang ini sudah cukup membuat napas ngos-ngosan dan jantung bekerja keras memompa aliran darah. Bagi saya yang jarang berolahraga, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan rute dari titik awal sampai ke anak tangga paling atas.

13662772431192793785
Mendekati jembatan gantung. Ada tanda peringatan bahwa jembatan hanya bisa dilalui oleh maksimal 10 orang. (dok. AFR)

Singkat? Ya dari segi waktu bisa dikatakan begitu. Itupun sudah dengan jeda mengatur napas beberapa menit di sela-sela perjalanan menaiki tangga. Tapi kepuasan ketika sudah sampai di anak tangga paling atas, membayar semua kelelahan yang terasa. Pemandangan hijau yang terhampar segera tersaji dengan indahnya. Kita bisa melihat taman kota di Jl. Panorama nun jauh di sana, tempat kita biasa memandangi Ngarai Sianok dari arah Bukittinggi.

Untuk ke sana, kita cukup berkendara ke arah Ngarai Sianok, belok ke kiri di sebuah persimpangan di Jl. Panorama. Jalan yang cukup sempit, berkelok-kelok dan menurun memang agak menyulitkan dan membuat pengendara harus selalu berhati-hati. Selang beberapa menit perjalanan dari persimpangan tadi, di sebelah kiri kita akan menemui pintu masuk ke Janjang Kotogadang. Untuk parkir memang agak jauh. Dari parkiran (mobil) yang kira-kira berjarak 50 meter itu, kita berjalan balik arah ke pintu masuknya. Tak ada loket untuk memungut biaya masuk. Wisata tangga ini gratis. Sebelum melangkah, ada baiknya Anda berfoto dulu di dekat tanda masuknya sebagai kenang-kenangan. Hehehe

13662773421672517424
Pemandangan di sisi kanan sebelum jembatan gantung. (dok. AFR)
Jalan pertama yang dilalui menurun. Jarak beberapa ratus meter, ada jembatan gantung yang hanya boleh dilalui oleh maksimal 10 orang. Saat itu kebetulan tak terlalu banyak pengunjung karena bertepatan dengan hari kerja. Jadi kami yang saat itu berempat, dengan leluasa berjalan di atasnya. Cukup menegangkan karena goyangannya. Sampai di ujung, mulailah janjang yang lumayan panjang itu terlihat. Bentuknya agaknya sengaja dibuat persis dengan Great Wall di China. Bernuansa batu susun yang sisi temboknya berbentuk gerigi.

Semakin naik, tentu pemandangan yang dilihat pun semakin membentang luas dan menakjubkan. Beberapa spot yang menarik tak lupa saya potret. Sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan sekitar. Namun tak ingin berlama-lama, karena kaki sudah ingin segera beristirahat di ujung atas sana. Sampai di atas, setelah merehatkan kaki sejenak sambil minum minuman segar, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kotogadang.

1366277417791352176
Pemandangan indah dari atas janjang. (dok. AFR)

Loh? Kenapa tidak turun balik?
Hehehe…ini ide kami saja. Kebetulan, Kotogadang adalah kampung halamannya suami. Ibunya berasal dari nagari ini. Jadi kami memilih singgah sebentar menengok rumah keluarga di Kotogadang sebelum akhirnya naik angko (angkot) ke tempat kami parkir. Ongkosnya sebenarnya cukup Rp 3000,-/orang. Tapi ternyata supir angko yang kami naiki meminta lebih karena harus mengantar kami ke tempat parkir di ngarai sana, yang sebenarnya bukan rutenya. Tak apalah. Rp 30.000,- untuk kami berempat tentu tak jadi masalah. Daripada capek dua kali. Hehehe…

1366277502966238055
Taman kota Jl. Panorama terlihat dari kejauhan. (dok. AFR)
Sebenarnya di atas sini pun juga ada tempat parkir buat kendaraan-kendaraan yang masuk dari Kotogadang. Jadi silakan memilih, mau naik janjang dari Ngarai Sianok atau turun janjang dari Kotogadang.
Anda pun boleh mencoba cara kami tadi. Jadi setelah menaiki janjang, Anda berjalan-jalan sejenak menikmati keindahan nagari Kotogadang dengan Gunung Singgalang-nya. Sepanjang jalan menuju nagari ini, Anda akan disuguhi plang di depan beberapa rumah yang menjual penganan khas nagari asal Rohana Kudus ini; Gulai Itiak Lado Mudo (Gulai Itik Cabai Hijau). Ini kuliner yang lezat dinikmati dengan nasi panas dan telur mata sapi setengah matang.

13662775811901075481
Akhirnya sampai di atas. (dok. AFR)

Kekhasan yang lain dari Kotogadang ini adalah kerajinan peraknya. Entah bagaimana asal muasalnya, arti nama nagari ini sama dengan Kotagede di Yogyakarta, yang sama-sama menghasilkan kerajinan perak. Harga kerajinan peraknya cukup variatif. Untuk kerajinan perak ini, saya lebih suka ke “Kerajinan Amai Setia”. Selain menjual kerajinan perak, di sini juga ada kerajinan Selendang Suji Cair, selendang adat Kotogadang yang asli buatan tangan penduduk sini. Juga ada beberapa souvenirseperti kaos T-Shirt khas Kotogadang. Di lantai atasnya, ada museum Rohana Kudus. Jadi sambil melihat-lihat (dan membeli) kerajinan khasnya, kita juga sekalian belajar sejarah. :)

1366277637633109062
Jalan menuju Kotogadang. (dok. AFR)
Di depan Amai Setia-lah Gunung Singgalang dan sawah luas terhampar seperti lukisan. Di ujung jalan, ada Masjid Nurul Iman yang berdiri megah. Buat Anda yang muslim, nikmat sekali rasanya menyegarkan hati dan pikiran sejenak dengan salat di sana. Di seberangnya, Anda bisa berfoto di depan Balai Adat. Sejauh mata memandang, tersedia bentangan lanskap menarik yang sayang jika tak diabadikan lewat foto.

1366277702350984034
Suasana salah satu sudut Kotogadang, dilatarbelakangi Gunung Singgalang. (dok. AFR)
Nah, bagaimana? Berminat untuk jalan-jalan ke Great Wall-nya Indonesia ini? Siapkan dulu tenaga dan kaki-kaki Anda agar kuat menapaki ratusan janjangnya sampai ke Kotogadang. Jangan lupa membawa kamera dan minuman juga ya! :)

Sumber : http://wisata.kompasiana.com

Categories:

One Response so far.

  1. onde mande...
    keran kali foto2nya..
    i like it :D

Leave a Reply